Jejak Sejarah Kesultanan Banten di Sisi Barat Pulau Jawa

Oleh: Rachel

Puing-puing Keraton Surosowan | Sumber Gambar: Rachel

Menuju daerah paling barat di Pulau Jawa tidak akan lengkap jika tidak mengunjungi situs bersejarah di tempat tersebut. Provinsi Banten yang merupakan wilayah paling barat Pulau Jawa sebelumnya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, hingga pada tahun 2000 Banten menjadi wilayah pemekaran Provinsi Jawa Barat dengan dikukuhkannya Undang-undang nomor 23 tahun 2000 tentang pembentukan Provinsi Banten.

Keraton Surosowan merupakan salah satu destinasi bersejarah di Provinsi Banten. Terletak di Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Keraton ini digambarkan sebagai lambang kekuasaan kerajaan yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerinatahan pada masa kerajaan sekaligus pusat kota. Keraton Surosowan merupakan pusat Kerajaan Banten yang mulai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin sekitar tahun 1552- 1570 M. Keraton Surosowan telah mengalami beberapa kali perubahan akibat konflik yang terjadi pada masa tersebut. Keraton Surosowan pernah dibakar oleh Yudanegara pada masa pemerintahan Sultan Muhamad (1580-1596 M) pertama yang terjadi akibat perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putra sulungnya Sultan Haji. Pada rentang tahun 1681-1682 Sultan Haji berhasil menduduki Kesultanan Banten, dan kembali membangun istana di atas puing-puing bangunan sebelumnya. terakhir pada tahun 1808 – 1832 bangunan istana kembali hancur akibat terjadinya perselisihan antara Kesultanan Banten dengan belanda di bawah pimpinan Daendels.

Benteng Keraton Surosowan | Sumber Gambar: Rachel

Bangunan keraton dikelilingi oleh benteng tinggi yang terbuat dari batu karang dan batu bata merah. benteng tersebut masih berdiri dengan kokoh, namun pada bagian dalam dinding hanya terlihat sisa puing-puing bangunan yang telah ditumbuhi ilalang dan rumput liar. Puing-puing bangunan tersebut antara lain adalah: istana sultan, kolam roro denok, datulaya, kolam pancuran mas, gerbang utara dan timur. pada bagian barat keraton terdapat Masjid Agung Banten, Pasar Karangantu di sebelah timur, pelabuhan di sebelah barat dan alun-alun yang berada di sebelah utara. pintu gerbang timur dan barat berbentuk melengkung setengah lingkaran yang seluruhnya terbentuk dari batu bata yang menambah nilai keunikan dan keestetikan puing-puing bangunan tersebut.

Masjid Agung Banten | Sumber Gambar: Rachel

Masjid Agung Banten merupakan salah satu masjid tertua yang ada di indonesia. masjid ini berada dalam satu komplek kesultanan. Masjid Agung Banten selalu ramai dikunjungi para peziarah baik lokal maupun mancanegara. Para peziarah datang untuk berkunjung ke makam Sultan Hasanuddin yang terletak di sisi kanan masjid. Sultan Hasanuddin dimakamkan berdampingan dengan ulama-ulama dan keluargannya. Di depan masjid juga terdapat kolam yang panjang serta menara yang beralaskan segi 8 dengan tinggi mencapai 23 meter yang mirip dengan mercusuar. Menara tinggi menjadi salah satu ciri dan tren arsitektur masjid di Timur Tengah, bahkan ciri khas tersebut terbawa hingga ke nusantara. Menara tersebut dibangun untuk mengumandangkan azan serta mengontrol Teluk Banten. Awalnya menara Masjid Agung Banten didesain oleh arsitek Cina pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin hingga kemudian direnovasi oleh arsitek asal Belanda, maka dari itu bagian menara masjid yang dilihat saat ini merupakan bentuk terakhir yang cenderung menyerupai bangunan-bangunan yang berciri khas Belanda. Meski demikian bagian utama masjid masih terlihat mengadopsi ciri khas pagoda.

Atap masjid yang dikenal saat ini umumnya mempunyai bentuk seperti kubah yang mengikuti gaya Timur Tengah, namun masjid Agung Banten mempunyai atap berbentuk limas segi empat yang betumpuk lima seperti ciri khas kuil di Cina. Bagian dalam masjid ditopang oleh banyak pilar-pilar kayu, dari luar, rupa Masjid Agung Banten sangat sederhana, dengan ciri khas perbaduan antara bangunan Jawa Kuno dan Cina. Halaman masjid saat ini didesain lebih modern, halaman yang sebelumnya merupakan hamparan rumput hijau telah dilapisi marmer dan dihiasi dengan payung-payung besar seperti yang ada di Masjid Nabawi.

Banten menjadi salah satu wilayah yang memiliki destinasi wisata unik dan bersejarah yang wajib dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi, terutama bagi para pelancong yang tertarik dengan wisata religi dan sejarah. Selain menambah banyak pengetahuan serta pengalaman, melakukan perjalanan wisata tentu menjadi sarana dalam menghilangkan kejenuhan dari rutinitas sehari-hari.

Referensi

  • Ambary, hasan muarif. 1980a. “tinjauan tentang penelitian perkotaan banten lama” dalam prosiding pertemuan ilmiah arkeologi i, jakarta: proyek penelitian purbakala, hal. 443–469.
  • Ambary, hasan muarif. 1980b “catatan singkat kepurbakalaan banten lama”, dalam analisis kebudayaan th. i no. 1, hal. 117–127.
  • Djajadiningrat, hoesein. 1983. “tinjauan kritis tentang sejarah banten” (transl). jakarta: penerbit jambatan.
  • Guillot, claude. 1990. the sultanate of banten. jakarta: gramedia
  • R. cecep eka permana, 2004. wacana, fase-fase pembangunan keraton surosowan-banten lama, wacana, vol. 6 no. 1
  • R. cecep eka permana, 2004. makara, sosial humaniora, kajian arkeologi mengenai keraton surosowan banten lama, banten, vol. 8, no. 3
  • Yosua adrian pasaribu.2019. alpataru, spatial planning in terms of cultural heritage region conservation: study of old city of banten,  majalah arkeologi vol.28 no.2

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!