Perempuan dan Tongkrongan Laki-laki

Oleh: Rachel

Perempuan kebanyakan pasti pernah mengalami namanya jalan sendirian melewati gerombolan laki-laki yang lagi nongkrong. Kejadian lain, seperti ingin makan di warteg favorit sehabis nugas lama dikosan, lagi lapar-laparnya tapi terpaksa putar balik karena dari kejauhan sudah melihat segerombolan laki-laki yang lagi asyik makan sambil nge-game di warteg. Bisa dibilang ini fenomena yang sudah jadi rahasia umum di kalangan perempuan. Selain itu, anehnya ketika ada gerombolan perempuan lain, atau bapak-bapak dan ibu-ibu, tidak ada perasaan ketakutan dan ketidaknyamanan yang serupa.

Kejadian unik dialami teman saya ketika ia hendak masuk kelas, namun terhalang laki-laki yang duduk di depan pintu, ia bahkan sampai meminta bantuan teman saya yang lain agar bisa masuk kelas. Malang ketika sudah masuk, ternyata salah kelas. Seketika saya sadar terhadap perasaan takut dan tidak nyaman yang teman saya rasakan ternyata juga selalu saya rasakan ketika harus melewati segerombolan laki-laki yang sedang nongkrong.

Berbagai macam sikap seperti mengurungkan niat ketempat tujuan, pura-pura cek handphone atau berjalan menunduk menjadi salah satu alternatif dan tips untuk mengusir kegusaran hati yang efektif dilakukan bagi perempuan-perempuan yang akan melewati “kandang serigala” segerombolan laki-laki.

Hal ini dapat terjadi lantaran perempuan sering menjadi objek sasaran catcalling atau pelecehan verbal. Catcalling menurut Stop Street Harashment Organization (SSHO, 2015) merupakan sebuah tindakan yang biasa terjadi diruang publik dengan melakukan komentar terhadap tubuh seorang atau beberapa korban sasarannya. Pelaku catcalling menyasar secara random, siapapun bisa jadi korban perbuatan yang paling menjengkelkan, tidak berguna dan membuat korban ingin misuh ditempat. Benar-benar tidak habis pikir sama laki-laki tipikal begini, apalagi mereka berani mainnya gerombolan.

Pelaku catcalling sendiri bertujuan untuk mencari perhatian dari objek atau korban catcalling. Para pelaku kadang berkedok untuk memuji, bercanda atau iseng, nyatanya itu sama sekali tidak lucu bagi korban. Korban catcalling memang bisa terjadi oleh semua orang tanpa memandang jenis kelamin, tetapi umummnya korban catcalling adalah perempuan.

Perasaan tidak nyaman, terancam, kesal, marah dan takut kerap kali dirasakan oleh perempuan korban catcalling.

Maka dari itu, kejadian tersebut menjadi alasan mengapa perempuan begitu tidak nyaman ketika harus berjalan sendirian melewati gerombolan laki-laki yang sedang nongkrong. Padahal belum tentu laki-laki itu merupakan pelaku catcalling atau berniat untuk melakukan catcalling. Perasaan waspada dan ketakutan-ketakutan akan menjadi korban catcalling merupakan alasan yang utama.

Beberapa negara di Eropa dan Amerika, perbuatan catcalling dapat dikenai hukuman berupa denda ataupun hukuman penjara, dengan beban yang berbeda-beda tergantung pada penerapan negara tersebut, di Indonesia pengaturan terhadap catcalling masih belum menemui titik terang yang jelas. Permasalahan pelecehan verbal diserahkan pada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, namun hal ini masih belum cukup karena perbuatan pelecehan verbal tersebut perlu memenuhi unsur-unsur yang spesifik terdapat dalam undang-undang tersebut, sehingga tidak cukup melingkupi perbuatan catcalling secara umum.

Tidak muluk-muluk hukuman denda sudah lebih dari cukup dari pada harus repot-repot memenjarakan pelaku catcalling, hal ini agar pelaku dapat jera dan tidak lagi mengulangi perbuatan yang telah merugikan banyak orang.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!