Pemilihan

Oleh: Elwas Berdha

Langit masih gelap, dingin masih memeluk erat. Azan subuh baru saja berkumandang, beberapa warga muslim tampak berjalan menuju langgar di ujung jalan, bersebelahan dengan bangunan gereja. Beberapa warga desa lainnya hilir mudik melewati jalan bebatuan menggunakan sepeda ontel mereka, ada yang pergi berjualan di pasar, ada yang bersiap bekerja di sawah, atau ibu-ibu yang sibuk membangunkan anak-anak mereka untuk bersiap pergi ke sekolah.

            Desa di kaki gunung itu bernama Desa Asasta, warganya hidup sejahtera sesuai dengan nama desa mereka. Bapak-bapaknya ada mengurus sawah, ada pula yang bekerja menjadi guru atau perangkat desa, ibu-ibunya sibuk dengan usaha olahan makanan ringan yang diolah dari umbi-umbian yang dipanen dari hasil kebun. Masyarakat Desa Asasta memang tidak banyak yang melanjutkan sekolah hingga jenjang SMA, kebanyakan hanya sampai pada jenjang SMP namun beberapa pemuda dan pemudi yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi tidak lupa untuk kembali ke desa, ikut membangun desa lewat ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari kota.

            “Sampeyan tidak ingin mencalonkan diri menjadi kepala desa tho, Bu Eko?” tanya Bu Sri, tangannya sibuk memotong-motong singkong yang akan diolah menjadi olahan getuk bersama ibu-ibu desa lainnya.

            “Iya bu, kan Pak Eko tahun ini sudah tidak bisa ikut pilihan lagi, nggak kepengen melanjutkan kayak kepala desa-desa lainnya bu?” tambah Bu Yanti.

            Bu Eko hanya tersenyum, sambil tetap meneruskan pekerjaannya mengemas getuk-getuk yang sudah jadi kedalam plastik berlabel. “Mboten ibu-ibu, gantian yang lain. Biar warga desa ndak bosan, lagian zamannyakan sudah tidak zaman kerajaan seperti dulu,”

            “Jadi Mas Didik jadi calon kepala desa tunggal ya ibu-ibu?”

            “Katanya suamiku ada lagi yang mencalonkan diri Bu Yanti, tapi saya juga ndak kenal, bukan warga desa sini tapi mau pindah ke desa ini kalau terpilih jadi kepala desa,”

            “Lho kalau bukan warga desa sini bagaimana bisa tahu permasalahan yang ada di desa ini? Bagaimana bisa tahu tabiat warga desa ini?”

            “Ya nggak tahu juga bu, calon saingannya Mas Didik ini katanya sarjana dari kota, anak saya yang paling besar sering cerita sama bapaknya tentang janji-janji yang mau dilakukan saat terpilih nanti, sepertinya yang didekati untuk memilih para anak muda,”

***

            Didik sedang mengajari pemuda desa mengenai teknik bercocok tanam yang dulu ia pelajari di kampus saat masih menjadi mahasiswa di kota. Bersama dengan para pemuda ia membuat beberapa instalasi hidroponik yang dipasang akan di tanah kosong dekat kebun Pak Ahmad, rencananya hidroponik tersebut akan ditanami berbagai jenis sayuran yang kemudian akan dijual ke kota sebagai usaha baru milik desa. Didik sudah lulus menjadi sarjana pertanian beberapa tahun lalu, dua tahun ia merantau bekerja di kota hingga tahun lalu ia mengikuti jejak teman-temannya yang kembali ke desa dan membangun Desa Asasta bersama-sama. Pesta demokrasi desa tahun ini akan segera digelar, Pak Eko selaku kepala desa lama meminta beberapa generasi baru untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin desa. Satu-satunya yang mencalonkan diri adalah Didik, mantan ketua badan eksekutif kampus yang ingin terjun secara langsung memajukan desa tempat ia lahir dan dibesarkan.

            “Mas. Sampeyan apa ndak takut kalah saing sama orang baru itu?” Arif bertanya pada Didik, laki-laki yang baru saja lulus SMA itu sedang memotong pipa menjadi bagian yang lebih kecil.

            “Kalah saing apa tho, Rif?”

            “Ya kalah saing jadi kepala desa, mas apa ndak lihat kalau tadi pagi jalan-jalan desa banyak dipasang baliho besar dengan gambar calon kepala desa yang entah dari mana asalnya itu, belum lagi beberapa hari lalu beliau mengajak pemuda buat srawung sambil dibawakan makanan kota, enak tenan rasa makanan mas,”

            “Terus saya harus bagaimana Rif? Ikut pasang baliho besar? Lalu njajakne kamu dan teman-temanmu?” yang ditanya hanya mengangguk bersemangat.

            “Calon kepala desa satunya itu memasang baliho supaya warga desa kenal sama beliau, lha kalau saya pasang baliho ya pemborosan, wong warga desa sudah pada kenal sama saya, mending uang untuk membuat baliho itu digunakan untuk hal-hal lainnya yang lebih penting,”

            “Ibu-ibu desa juga setiap minggu menyiapkan berbagai makanan enak untuk pertemuan, teman-temanmu yang perempuan juga nggak kalah enak kalau membuat makanan-makanan yang aneh-aneh tapi tetap bergizi itu, jadi untuk apa saya njajakne lagi?”

            Arif tampak memasang muka berpikir, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat Didik.

            Didik tersenyum, melanjutkan kegiatannya membuat pupuk kandang guna menjadi media tanam untuk tabulampot yang sedang dipersiapkan oleh pemuda desa lainnya sebagai pendamping hidroponik nanti. Baginya saat ini ia tak perlu repot-repot membuat visi misi dan janji kepada warga desa, warga desa tentu sudah tahu siapa yang terbaik bagi desa mereka, entah itu dirinya ataupun calon kepala desa yang satunya, yang terpenting tujuannya kembali ke desa untuk membantu memajukan pertanian yang ada bukan untuk berebut kursi kepala desa.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!