Wisata Tebing Breksi adalah Bukti Masyarakat yang Berdaya

Oleh: Cahaya Dwi Dzullia

Tebing Breksi merupakan tempat wisata yang berada di wilayah Kabupaten Sleman. Lokasinya berada di sebelah selatan Candi Prambanan dan berdekatan dengan Candi Ijo serta Kompleks Keraton Boko. Lokasi Wisata Tebing Breksi tepatnya berada di Desa Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tebing Breksi pada awalnya hanyalah berupa bukit yang masih alami hingga akhirnya oleh masyarakat sekitar Prambanan maupun di luar Prambanan melakukan penambangan batu. Warga desa Sambirejo mulai melakukan aktivitas penambangan sekitar tahun 1980-an sehingga di sekitar lokasi banyak terdapat tempat pemotongan batuan hasil penambangan untuk dijadikan bahan dekorasi bangunan

Pertambangan mulai berhenti ketika ada penetapan kawasan Tebing Breksi sebagai warisan geologis atau geo-heritage yang harus dilestarikan keberadaannya. Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan Kepala Badan Geologi RI Nomor 157.K/40/BGL/2014.Berdasarkan peneltian bahwa bukit tersebut menyimpan peristiwa sejarah di masa lampau yang masih terikat dengan pegunungan sewu (pegunungan yang membentang daerah parangtritis hingga ke area prambanan), Gunung Api Purba Nglanggeran dan lava bantal berbah

Awalnya Dinas Pariwisata DIY mengaku sangat kesulitan merubah pola pikir masyarakat karena sudah kadung lama puluhan bahkan ratusan masyarakatnya menggantungkan perekonomian pertambangan Tebing Breksi. Guna memudahkannya, Dinas Pariwisata DIY mengaku menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk mengubah pertambangan kapur menjadi objek wisata berbasis alam. Dana pembangunan awal didanai oleh pemerintah daerah dan Sri Sultan sebagai gubernur DIY sejumlah sekitar Rp 100 juta pada tahap awal dan Rp 740 juta pada tahap kedua

Selain membantu dalam hal pendanaan, Dinas Pariwisata DIY pun melakukan pendampingan serta pelatihan terhadap warga dalam hal manajerial dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Banyak warga yang terlibat dalam pengelolaan. Yang dulunya penambang, sekarang jadi pengelola wisata

Saat masih menjadi kawasan pertambangan, Tebing Breksi hanya menyerap tenaga kerjatak lebih dari 46 kepala keluarga, namun setelah menjadi kawasan wisata, tenaga kerja yang terserap sekitar 500 kepala keluarga. Tebing Breksi menjadi pionir dalam pemanfaatan kawasan bekas tambang dengan community based toursim dan menjadi nafas bagi masayarakat Sambirejo

Pariwisata berbasis masyarakat merupakan pengembangan pariwisata dengan tingkat keterlibatan masyarakat setempat yang tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan dari aspek sosial dan lingkungan hidup (CIFOR  dalam Hayati, 2016)

Menurut Hermantoro (2013: 80), paling tidak ada tiga hal yang mendasari perkembangan pemikiran ini, antara lain: Masyarakat lokal adalah bagian dari atraksi di sebuah destinasi, pariwisata akan bertumpu pada kepemilikan publik serta kepemilikan komunitas serta berbagai dampak negatif dari kunjungan wisatawan telah menyebabkan adanya pemikiran pada konsep pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat lokal dalam sebuah destinasi wisata. Ketiga hal dasar ini yang mencetuskan terbentuknya konsep pembangunan pariwisata berbasis komunitas (community based tourism development)

Konsep pengembangan pariwisata berbasis komunitas mendukung bentuk kepariwisataan dengan menggunakan sumber daya lingkungan secara optimal baik sumber daya alam maupun masyarakatnya, menghormati keaslian sosial budaya setempat, memberikan manfaat ekonomi untuk jangka panjang, serta melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan serta perolehan bagian pendapatan terbesar secara langsung dari kehadiran wisatawan. Dengan demikian community based toursim akan dapat menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari peningkatan kegiatan pariwisata.

Oleh  karena  itu, tidak berlebihan jika peneliti berasumsi bahwa hidup mati suatu destinasi akan tergantung dari bagaimana masyarakat lokal sendiri dalam mengelolanya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!