Bunyi Lesung Itu Untuk Siapa?

Oleh: Cahaya Dwi Dzullia

Desa Semilir sedang repot. Repot mempersiapkan upacara penyambutan bupati, katanya sih mau dateng. Baru katanya, tapi kehebohan sudah terlihat dimana-mana, ya siapa yang tidak heboh wong Desa Semilir jarang didatangi orang-orang besar, pak camat aja bisa terhitung jari dalam setahun untuk datang ke desa itu. Bukan karena apa, tapi memang Desa Semilir tempatnya ngumpet, akses ke jalan tersebut hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, mobil juga bisa sih tapi harus sopir yang terbiasa melewati jalur selatan yang bisa masuk ke desa tersebut. Kalau sopir yang terbiasa lewat jalan tol atau jalanan yang lurus-lurus aja mending urungkan niat untuk masuk ke desa ini dengan mobil. Walau desa ini ngumpet dan aksesnya sulit, tapi bisa dibilang Desa Semilir memiliki masyarakat yang berdaya dan mampu berdikari, desa ini jauh dari kata tertinggal.

Walau tidak seringnya mendapat bantuan dari pemerintah tapi fasilitas umum dan kesejahteraan masyarakat desa patut patut diacungi jempol. Masyarakat desa bergantung dengan sumber mata air gunung sehingga dipuncak gunung sana dipasang tandon air raksasa sebanyak 2 buah, masjid selalu ramai entah kegiatan apapun itu, masjid selalu menjadi titik kumpul di Desa Semilir, bahkan dari segi kesehatan pun, desa ini sampai menyewa dokter untuk berkunjung ke setiap rumah. Mereka berdaya dengan kemauan sendiri.

Tapi kali ini terlihat berbeda, setelah berpuluh-puluh tahun atau entah sudah berapa lamanya tidak ada orang besar yang datang ke desa ini, bupati ingin mengunjungi Desa Semilir untuk memperingati hari kemerdekaan. Saya yang mengamati desa ini sejak lama cukup terkaget dengan respon warga desa yang sangat antusias memperisiapkan berbagai macam hal untuk memeriahkan penyambutan, saya kira warga desa akan bersikap santai bahkan enggan memeriahkan kedatangan bupati. Ya mereka sudah dilupakan sejak lama tapi kok ya masih saja memaafkan dan sayang ke pejabat struktural yang entah baru denger nama desa ini seminggu yang lalu atau bahkan sejam yang lalu.

Para ibu berlatih memukul lesung secara berirama guna menghasilkan suara yang indah didengar, para bapak sibuk memasang tenda, mengecek soundsystem dan remaja-remaja yang lain sibuk membuat dekorasi. Ya semua larut dalam sukacita. Saya bertanya mengapa penampilan hiburan untuk penyambutan ini adalah memukul lesung, kemudian Pak Pardi sebagai tetua desa menjelaskan bahwa “memukul lesung mempunyai makna semangat dalam menumbuk gabah agar menjadikan beras untuk dipangan, jika tidak ada semangat dalam menumbuk gabah tentu saja keluarga tidak akan makan nasi karena berasnya masih berbentuk gabah, sama dengan desa ini jika tidak ada semangat antar masyarakat desa ya desa semilir sudah ambruk sejak dahulu.” Lalu Pak Pardi tertawa, saya masih tertegun dengan penjelasan beliau dan kemudian saya baru memahami bahwa semua ini pertunjukan satir yang dipersiapkan warga untuk sang bupati, dan kami pun tertawa bersama.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!