Masyarakat di antara Polutan dan Kebutuhan

Oleh: Rachel

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi (Bukit Kapur, Desa Taman Sari)

Desa Tamansari yang terletak di Kecamatan Pangkalan berada di bagian selatan Kabupaten Karawang yang berbatasan langsung dengan Kota Bogor dan Bekasi.  Desa Taman Sari merupakan salah satu daerah yang banyak melakukan kegiatan penambangan kapur dan merupakan produsen tertinggi penghasil kapur dalam wilayah Kabupaten Karawang. Jarak dari pusat kota ke Desa Tamansari terpaut cukup jauh sekitar 25 kilometer dan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam menggunakan kendaraan pribadi ataupun umum (elf). Mengutip dari tribunnews, salah satu pekerja tambang kapur mengungkapkan bahwa mayoritas mata pencaharian masyarakat di Desa Tamansari sebagai penambang kapur.

Kapur atau batu gamping (Limestone) memiliki banyak kandungan kalsium karbonat (CaCOɜ) yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Kapur dapat digunakan sebagai substansi untuk meleburkan logam pada proses pembakaran, campuran semen, pembuatan pupuk, menetralkan air dari COշ, pembuatan soda, keramik dan lain sebagainya. Selain memiliki banyak manfaat, proses penambangan sampai dengan pengolahan kapur juga telah banyak menyumbang kerusakan lingkungan.

Kebanyakan tambang dan pengolahan batu kapur telah berdiri selama kurang lebih 20 tahun, dan telah diwariskan secara turun temurun. Proses pengolahan batu kapur yang telah digali dari tambang masih menggunakan cara-cara tradisional. Proses pembakaran dilakukan untuk membentuk kapur mentah menjadi kapur yang dapat digunakan untuk menghasilkan produk-produk lainnya. Pembakaran kapur dilakukan dalam tungku pembakaran dengan menggunakan bahan bakar karet seperti ban bekas ataupun kain bekas sehingga menyebabkan asap dari hasil pembakaran berwarna hitam pekat. Posisi tungku pembakaran atau ‘lio’ sendiri beberapa di antaranya berdiri tepat di pinggiran jalan Badami – Loji yang menyebabkan asap dari hasil pembakaran tertiup angin sehingga menutupi lalu lintas jalanan dan menggaggu pandangan pengendara yang melintasi jalan tersebut.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi (Bukit Kapur, Desa Taman Sari)

Selain itu lio berdiri tidak jauh dari perkampungan warga yang mana asap dari proses pembakaran kapur juga memasuki rumah-rumah warga. Asap tersebut sangat berbahaya bagi pernafasan manusia dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Lebih dari itu asap hasil pembakaran yang mengandung COշ dapat mempengaruhi terjadinya pemanasan global. Lapisan ozon yang berfungsi melindungi bumi dari gelombang matahri perlahan menipis yang dapat menyebabkan kerusakan pada kulit manusia. Selain tu kumpulan COշ yang terjebak di atmosfir menyebabkan suhu bumi menjadi panas yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Disisi lain kita telah membahas bahwa batu kapur juga merupakan substansi yang penting dan mempengaruhi industri-industri lainnya. Selain itu masyarakat bergantung pada pekerjaan penambangan batu kapur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lantas apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi permasalahan lingkungan yang diakibatkan penambang kapur? Langkah tegas telah dilakukan pemerintah dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 3606 K/ 40/ MEM/ 2015 Tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Pangkalan. Karst dalam KBBI berarti daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah. Sedangkan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) merupakan karst yang menunjukan bentuk eksokarst atau endokarst tertentu yang daitur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst. Karst mempunyai kekayaan bahan tambang dan sumber daya air.

Sumber Gambar: Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 3606 K/ 40/ MEM/ 2015 Tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Pangkalan (Area biru denah daerah karst di Kecamatan Pangkalan)

Maka dari itu apabila tambang kapur yang merupakan daerah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) tidak dikelola dengan baik atau disalahgunakan dapat mengakibatkan kekacauan lingkungan serta mengganggu perkebunan dan persawahan yang bergantung pada pengairan sungai yang mengalir dalam perbukitan karst, selain itu juga berpotensi menyebabkan terjadinya konflik pada masyarakat. Dampak lingkungan yaitu kekeringan telah dirasakan dibeberapa titik daerah di wilayah Pangkalan, masih belum diketahui apakah fenomena ini akibat dari penambangan kapur atau ada faktor lain yang memengerahuinya, namun secara teoritis tambang kapur dapat menjadi penyebab kekeringan sumber mata air bersih. Kekeringan dapat terjadi karena kapur secara alamiah menyerap air, apabila kapur telah menampung banyak air maka akan terjadi proses pelarutan pada batuan kapur. Daerah karst di Pangkalan dijadikan sebagai salah satu KBAK dikarenakan adanya sumber air permanen dan juga sungai bawah tanah, yang keduanya merupakan syarat menetapkan KBAK.

Beberapa waktu lalu pada pertengahan bulan Juli 2020, aktivitas penambangan kapur masih berlangsung, terlihat asap hitam pekat serta suara alat berat untuk menghancurkan batuan kapur. Cukup disayangkan tindakan pemerintah tidak berjalan efektif, akan tetapi hal tersebut cukup beralasan lantaran penambangan kapur merupakan mata pencaharian penduduk sekitar. Pemerintah daerah harus juga memikirkan ulang cara-cara yang efisien untuk menggantikan pekerjaan penambangan dengan mengalihkan pekerjaan masyarakat yang didominasi oleh penambangan kapur kepada sektor pekerjaan lainnya. Secara mandiri masyarakat setempat sudah mulai mengelola sektor pariwisata. Berbagai macam tempat unik seperti gua-gua, air terjun, sumber mata air, perbukitan yang indah di wilayah tersebut dapat dijadikan objek pariwisata yang menguntungkan secara ekonomis bagi masyarakat setempat, akan tetapi hal ini masih berjalan lambat, pemerintah daerah perlu turun tangan untuk membantu secara langsung agar sektor pariwisata di daerah tersebut dapat berkembang dengan pesat serta permasalahan dan polemik tambang kapur dapat secara efektif dihentikan.

Sumber:

  1. Citta Ariestistya Hanifa. 2018. Analisis Persepsi Masyarakat dan Nilai Manfaat Ekonomi Pertambangan Batu Kapur (Studi Kasus: Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat). Bogor: Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
  2. MUCHTAR AZIZ. 2010. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara. Batu Kapur dan Peningkatan Nilai Tambah Serta Spesifikasi untuk Industry. Bandung: Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Volume 6, Nomor 3, 116 – 131
  3. Nasional Republika
  4. Pikiran Rakyat
  5. Radar Karawang
  6. Revitalisasi Kawasan
  7. Tribun News

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!