Ikatan Tanah Jawa dengan Sang Dewi Agraris

Oleh: Cahaya Dwi Dzullia

 

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi (Foto diambil dari Museum Sonobudoyo Yogyakarta)

Dalam kehidupan agraris di Indonesia, aspek kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib tidak dapat diabaikan begitu saja. Ada kepercayaan yang timbul secara turun-temurun terhadap adanya suatu kekuatan yang baik dan yang buruk. Kekuatan tersebut dianggap berada di tiap benda di sekitar manusia dan di dalam diri manusia itu sendiri. Bagi masyarakat pendukung kebudayaan agraris kekuatan tersebut dapat mempengaruhi hasil panen para petani. Oleh karena itulah diadakan pemujaan, dengan maksud menambah hasil panen dan menjaga keselarasan hidup di dunia

Di Indonesia, pemujaan terhadap kekuatan yang menimbulkan atau menguasai kesuburan sudah berlangsung sebelum datangnya pengaruh Hindu. Pemujaan terhadap kesuburan yang akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam kebudayaan agraris bermula dari ketidaktahuan tentang proses yang terjadi di alam ini. Manusia merasa heran dan takjub menyaksikan kelahiran, sedang mereka percaya bahwa apa yang ada di dunia ini semua dilahirkan. Cara berpikir yang masih sangat sederhana membawa mereka ke tokoh wanita, karena wanitalah yang melahirkan manusia ke dunia ini. Dari pandangan inilah muncul tokoh wanita yang dipuja sebagai dewi ibu. Tokoh dewi ini dalam masyarakat agraris digambarkan sebagai tanah, tanahlah yang melahirkan segala tanaman yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia ( Hariani Santiko, 1987:7).

Sebagian masyarakat yang hidup di daerah agraris khususnya penggarap sawah di Jawa dan Bali, percaya mitos tentang adanya daya alam dan kekuatan ajaib yang berkaitan dengan kesuburan secara verbal dipresentasikan melalui figur seorang wanita bernama Dewi Sri atau Nyi Pohaci yaitu seorang Dewi Padi. Bahkan di nusantara pun tercipta pula mitos yang serupa, namun dengan cerita yang cukup berbeda. Benang merah yang dapat ditarik dari berbagai macam cerita yang muncul dalam masyarakat, yaitu tumbuhnya tanaman padi berasal dari jasad dewi atau wanita yang mati lalu karena kebaikan dan kelembutan hatinya maka jasadnya tumbuh berbagai macam tumbuhan, salah satunya padi.

Tanah Jawa mempunyai penghormatan terhadap Dewi Sri dengan dibuatnya petanen. Petanen atau dikenal juga dengan nama pasren adalah bagian utama dari rumah Jawa yaitu senthong tengah, biasanya petanen diapit oleh 2 kamar yang disebut senthong (senthong kiwa dan senthong tengen) yang merupakan kamar dari pemilik rumah, karena krobongan diapit 2 senthong, maka disebut juga sebagai senthong tengah. Dalam kebudayaan Jawa yang berlatar belakang agraris, Dewi Sri atau dikenal juga Dewi Padi yang memberikan kesuburan sehingga panen melimpah. Tak heran, rumah-rumah tradisional Jawa memberikan ruang sakral di bagian tengah sebagai suatu bentuk penghormatan.

Bagian dari rumah dikenal juga dengan nama krobongan, banyak benda-benda sakral yang diletakkan dalam petanen yang ditujukan untuk sang Dewi Sri sebagai pemujaan kesuburan yang berhubungan dengan religi dan agraris. Bagi para petani, pasren atau petanen merupakan simbol adanya hubungan erat antara petani dengan Dewi Sri yang diharapkan akan terus memberikan keinginan petani yaitu mendapatkan hasil panen yang melimpah dari tahun ke tahun. Petanen yang berada dalam gambar diatas merupakan hibah dari Sultan Hamengku Buwono VIII kepada Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang diperkirakan berasal dari masa Sultan Hamengku Buwono I. Adapun bagian-bagian dari petanen adalah sebagai berikut:

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi (Foto diambil dari Museum Sonobudoyo Yogyakarta)

Pada rumah Joglo milik seorang bangsawan, keberadaan pasren dilengkapi dengan beberapa aksesoris seperti ani-ani (pisau kecil untuk memetik padi), beberapa tangkai padi, dan Patung Loro Blonyo. Loro Blonyo merupakan patung sepasang pengantin dari tanah liat/ kayu yang digambarkan dengan posisi duduk bersila yang merupakan gambaran bersatunya Dewi Sri dengan Raden Sadhana. Patung ini menyimbolkan harapan agar pengantin Jawa diberi kesuburan dalan proses regenerasi mereka.

Bentuk lain penghormatan masyarakat Jawa kepada Dewi Sri juga upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan aktivitas pertanian yang dilakukan oleh masyarakat petani merupakan sebuah bentuk penyelarasan terhadap kekuatan alam dan roh-roh yang ada disekitarnya agar tanaman terhindar dari hama penyakit dan agar mendapatkan hasil panen yang melimpah Upacara ritual yang dilakukan oleh petani padi dimulai sejak penaburan benih, saat tanaman melewati beberapa siklus, dan saat tanaman dipanen

Padi merupakan bahan pokok bagi kebutuhan hidup manusia, oleh karena itu manusia sangat menghormati dan menghargainya. Berbagai macam usaha dilakukan untuk mencapai keberhasilan bercocok tanam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan padi dilakukan dengan perasaan hormat, patuh serta bakti. Perasaan yang demikian mendorong orang untuk mengadakan perbuatan disebut ‘religious behavior’ (Koentjaraningrat, 1967:230), yaitu suatu perbuatan yang selalu berhubungan dengan kepercayaan

Adanya tokoh wanita sebagai peran utama dalam proses terjadinya tumbuh-tumbuhan erat hubungannya dengan tokoh dewi ibu yang juga dianggap melahirkan segala sesuatu di dunia ini, terutama tanaman yang dibutuhkan manusia (Hariani Santiko, 1987:294-295). Dewi Ibu juga dianggap sebagai personifikasi dari tanah yang melahirkan tanaman sumber hidup manusia (Hariani Santiko, 1987:292).

Berdasarkan kepercayaan dan mitos ini, terutama yang berhubungan dengan kesuburan terlihat bahwa tokoh wanita mempunyai peranan yang sangat penting dalam kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Catatan kaki:

http://amangkuratprastono.blogspot.com/2012/04/krobongan-petanen.html

Hariani Santiko, 1977, Dewi Sri, Unsur Pemujaan Kesuburan Pada Mitos Padi, MISI.

Koentjaraningrat, 1981, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat, Jakarta.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!