Semangkuk Mie dan Secangkir Susu Hangat

Suara: Rachel

Ketika duduk termenung, mengingat kembali perjalanan yang masih belum genap satu tahun yang lalu, telah banyak mengubah paradigma berpikir saya tentang kehidupan. Bagaimana kita menjalankan kehidupan baik, yang seharusnya dan yang sebenarnya. Tidak sedikit kekeliruan yang telah saya perbuat, dan mungkin tidak sengaja ‘kami’ perbuat –tentunya dalam sudut pandang penulis- pada perjalanan bulan Juli hingga pertengahan bulan Agustus tahun lalu di Pulau Rote tapatnya pada Kecamatan Rote Timur di Desa Faifua. Menemui beberapa momentum yang menggugah pikiran ditengah-tengah pengerjaan program kerja, atau bahkan ketika ada sedikit waktu luang bertamu secara tidak sengaja sambil meratapi pemandangan alam yang begitu menakjubkan indahnya, yang tentunya jarang dijumpai pada daerah perkotaan. Menemukan kebenaran atau kesalahan tidak melulu perkara penerimaan secara sukarela, dengan banyak berbincang dan perenungan mendalam tidak lupa dengan ditemani semangkuk mie instan yang aromanya menggugah hingga belakang pekarangan posko serta secangkir susu hangat yang dibuat dengan semi tradisional.

Menarik pembahasan pada persoalan sosial ekonomi, menjadi topik yang akan diangkat dalam bahasan kali ini. Jika mengingat penelitian yang dilakukan oleh Charles Darwin hingga akhirnya ia dapat menemukan konsep evolusi manusia, tentu kita tahu bahwa Charles Darwin merupakan seorang pengamat yang sangat cerdik, teliti dan juga berhati-hati, walau dalam penemuannya menimbulkan banyak kontroversi pada saat itu, namun tidak sia-sia karena ia telah mendapatkan penghormatan tinggi pada hari wafatnya di Inggris serta diakui menjadi anak bangsa pada saat itu. Kembali ke dalam pembahasan, kita juga perlu mengamati dengan sangat berhati-hati terhadap objek atau fenomena yang ada di hadapan kita seperti yang dilakukan oleh Charles Darwin pada saat itu, begitu pula yang coba dilakukan oleh penulis dalam mengamati tingkah laku, perbedaan sosial dan lingkungan dalam masyarakat Desa Faifua. Jika diamati tentunya tidak sedikit perbedaan dari masyarakat yang ada di perkotaan dan masyarakat di Faifua, dari mulai kebiasaan, gaya hidup, kemajuan teknologi, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya. Namun yang menjadi persoalan adalah kenapa bisa terjadi perbedaan yang signifikan dalam pola hidup masyarakat perkotaan dan masyarakat yang ada di Rote. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia seharusnya masyarakat yang ada di Rote juga dapat berkembang secara pesat, mengingat kemajuan teknologi yang terjadi pada abad 21 ini. Pertanyaan selanjutnya adalah manakah yang lebih baik, dari perkembangan industri yang ada diperkotaan atau kehidupan sederhana yang ada di implementasikan oleh masyarakat di Faifua.

Perbedaan sosial budaya ekonomi tentu memiliki beberapa faktor, mau tidak mau permasalahan geografis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan beberapa sektor yang telah disebutkan sebelumnya. Banyak alasan yang bisa menjadi pertimbangan dan potensi perbedaan yang terjadi pada masyarakat perkotaan dan sebagian masyarakat di daerah terpencil lainya, penulis tidak akan banyak membicarakan faktor apa saja yang mempengaruhi karena masih kekurangan data yang mumpuni dalam mengembangkan penulisan ini sehingga akan terkesan asumtif. Pembahasan selanjutnya manakah yang lebih baik kehidupan sederhana yang dilakukan oleh masyarakat di Rote atau kehidupan yang dikatakan sebagai orang “maju” sehingga bercita-cita memajukan kehidupan di Rote yang sebagian besar mengatakan ‘belum maju’.

Maka dari itu kita pelru mengetahui kebiasaan yang hidup dari masyarakat di Desa Faifua. Masyarakat di Desa tersebut mayoritas bermatapencaharian sebagai petani dan juga nelayan, dengan sebagian kecil menenun kain khas Rote berbeda tentunya dengan masyarakat di perkotaan yang sebgian besar memiliki mata pencaharian sebagai pedagang atau pegawai kantoran negeri dan swasta. Selanjutnya, masyarakat di Rote Timur atau tepatnya di Desa Faifua tidak cukup memiliki akses transportasi layaknya di perkotaan sehingga karena hal tersebut masyarakat di Rote sering berjalan kaki untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh sehari-hari, selain itu pada saat kemarau di beberapa titik pada Desa Faifua kerap kali mengalami kekeringan air bersih, binatang ternak di biarkan hidup bebas tanpa diberi kandang seperti yang dilakukan oleh masyarakat jawa di pedesaan, serta masyarakat Desa Faifua masih minim penggunaan teknologi seperti listrik sehinga untuk mengambil air masyarakat masih menggunakan sumur. Masyarakat perkotaan memiliki kehidupan yang benar-benar berbeda dengan masyarakat yang ada di Rote dengan ciri utamanya yakni melakukan pemanfaatan teknologi secara maksimal. Perkembangan teknologi yang kian pesat merupakan dampak yang baik apabila tuas pengendali berada dalam genggaman manusia, namun perkembangan teknologi saat ini benar-benar di luar kendali, yang mana pada saat ini perkembangan teknologi sedang berfokus pada informasi dan komunikasi.

Saat ini dunia dalam keadaan krisis lingkungan akibat emisi gas rumah kaca dan limbah pabrik yang tak terhitung jumlahnya. Kita tidak lagi dapat kembali ke abad pertengahan dimana belum adanya perubahan secara holistik yaitu revolusi indutsri saat ini. Namun,masih ada solusi efektif yang dapat dilakukan manusia demi merobohkan siklus pencemaran alam, yaitu dengan beralih pada teknologi yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan teknologi yang memang tidak diperlukan dengan berkaca pada kehidupan sederhana masyarakat di Rote. Perbedaan yang cukup signifikan, karena masyarakat Rote tidak banyak menyumbang permasalahan lingkungan bagi bumi, namun manusia perkotaan yang cenderung lebih banyak menimbulkan kerusakan, namun dengan tanpa sadar menyatakan bahwa kehidupan yang ada digenggamannya merupakan peradaban tertinggi dan peradaban yang maju, serta mengasihani masyarakat desa atau masyarakat terpencil yang hidup di luar peradaban mereka.

Tidak “sedikit” yang berpikiran seperti ini, masyarakat di Rote memang belum memiliki listrik sehingga malam tampak lebih temaram, namun juga tidak bijaksana ketika kita hanya datang untuk memberikan “peralatan listrik” sebagai penunjang agar mereka dapat menikmati sedikitnya kemahsyuran dari peradaban teknologi tanpa memberikan edukasi terkait “listrik” itu sendiri serta dampaknya bagi lingkungan. Menjelaskan penemuan lampu yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison dari penggunaan filamen tipis bambu sehingga membentuk serat karbon sampai peralihan dengan penggunaan tungsten yang merupakan logam terkeras di muka bumi sebagai penggantinya, merumuskan cara kerja listrik statis dan dinamis, tentu pengetahuan jauh lebih bermanfaat dibandingkan memamerkan barang – barang ajaib perkotaan, bukanya hal tersebut hanya langkah selanjutnya dalam melakukan pembodohan. Ini adalah salah satu kesalahan paling fundamental dari masyarakat perkotaan dalam memandang masyarakat terpencil dan sebaliknya dari masyarakat terpencil yang mengagung-agungkan masyarakat perkotaan, bukan tidak mungkin terjadinya penjajahan bagi bangsa sendiri, membuat kembali kerangka dalam siklus penindasan, lama-kelamaan kita bisa berubah menjadi tuhan kalau tidak sedikit berlebihan.

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Disisi lain kita juga tidak bisa memandang naif  berbagai macam manfaat perkembangan teknologi, seperti perkembangan pada ilmu kesehatan yang juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Faifua mengingat angka kematian ibu hamil yang cukup tinggi serta banyaknya anak yang mengalami gizi buruk. Tentu peran serta pemerintah harus dapat menangkap sinyal-sinyal dari masyarakat yang mengalami kesulitan, keterbatasan listrik bukan menjadi standar masyarakat tidak merasa bahagia, tapi kesakitan dan penderitaan merupakan hal yang sangat nyata yang tidak hanya bagi masyarakat di Rote namun masyarakat secara umum secara sadar akan menjauhi hal – hal yang berdampak pada penderitaan sehingga menimbulkan ketidakbahagiaan. Setidak-tidaknya kebutuhan dasar seperti air bersih, transportasi umum, dan juga sarana kesehatan yang layak dapat terpenuhi bagi masyarakat di Rote. Apabila kemanusiaan merupakan nilai bawaan dari manusia untuk membedakan kebaikan dan keburukan, maka makna manusia untuk hidup ialah demi kemanfaatan untuk seluruh kehidupan, tidak hanya bagi manusia, namun juga hewan, tumbuhan serta seluruh alam semesta, karena kita merupakan bagian kecil dari keseluruhan alam semesta dan kehidupan ini, menurut Berkeley sendiri yang merupakan filsuf empirisisme dari inggris mengatakan bahwa bukan tentang “ada” atau “tidak adanya” kita namun “siapakah kita” sebenarnya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!