Sejarah Pulau Terselatan Indonesia

Jas Merah: Elwas Berdha

Sumber Gambar: https://google.co.id/maps/pulau-rote

Apa yang terbesit dalam pikiran kalian saat mendengar kata Rote? Pagar selatan negeri zamrud khatulistiwa? Perbatasan Indonesia dengan Benua Australia? Atau teringat dengan jingle salah satu produk mie instan?

            Iya benar. Rote Ndao adalah kabupaten paling selatan dari Republik Indonesia. Kabupaten ini masuk ke dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang secara geografis berada pada 10º25’ LS – 11º15’ LS dan 121º49’ BT – 123º26’ BT dengan luas wilayah daratan mencapai 1280,10 km2 dan lautan mencapai 2.376 km2. Kabupaten Rote Ndao berbatasan dengan Laut Sawu di sebelah utara, Samudera Hindia di sebelah selatan, Selat Pukuafu di sebelah timur, serta Laut Sawu dan Samudera Hindia di sebelah barat1.  

            Sejarah mengenai terbentuknya Rote sangat jarang ditemukan diberbagai literatur, salah satu literatur yang membahas mengenai keberadaan Rote adalah buku berbahasa Belanda dengan judul Land Taal & Volkenkunde Van Nederlands Indie yang terbit pada tahun 1854. Akan tetapi Tridaya Journals mencoba mengutip sejarah dari situs pemerintah Kabupaten Rote Ndao.

Pulau Rote dalam arsip pemerintahan Hindia Belanda disebut dengan “Lolo Deo Do Tenu Hatu” yang berarti Pulau yang Gelap, disebut juga sebagai “Nes Do Male” atau Pulau yang Layu. Dituliskan pula bahwa Rote sudah ditinggali oleh manusia kurang lebih sejak abad 15 ketika kapal-kapal Portugis muncul dari sebelah utara timur Pulau Rote dan turun ke darat untuk memperoleh air tawar. Orang-orang Portugis tersebut bertemu dengan seorang nelayan yang mengatakan Rote is Mijn Naam, sehingga nahkoda kapal mengira bahwa pulau tersebut berbentuk Rote, menjadikan pulau tersebut bernama Rote2. Masyarakat Rote tidak hanya mendiami Pulau Rote, mereka juga tinggal di pulau-pulau kecil disekeliling Pulau Rote seperti Pulau Ndao, Pulau Ndana, Pulau Doo, Pulau Landu, Pulau Usu, Pulau Panama, Pulau Helina, dan Pulau Manuk. Masyarakat Rote memiliki kepercayaan tradisional dengan mengenal sosok yang dilambangkan dengan tiang bercabang tiga, disebut dengan Lamatuan atau Lamatuak sebagai Pencipta, Pengatur, dan Pemberi Berkah3.

Dari sejarah pemerintahan Rote Ndao bermula berdasarkan UU No. 69 Tahun 1958 Rote Ndao masuk kedalam bagian dari Wilayah Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Kupang yang hanya memiliki tiga wilayah kecamatan yakni Kecamatan Rote Timur, Kecamatan Rote Barat, dan Kecamatan Rote Tengah. Hingga pada tahun 2002 melalui UU No. 9 Tahun 2002, Rote Ndao berdiri menjadi kabupaten otonom dengan sepuluh kecamatan meliputi Kecamatan Rote Barat Daya, Kecamatan Rote Barat Laut, Kecamatan Lobalain, Kecamatan Rote Tengah, Kecamatan Rote Selatan, Kecamatan Pantai Baru, Kecamatan Rote Timur, Kecamatan Landu Leko, Kecamatan Rote Barat, dan Kecamatan Ndao Nuse4.

            Rote, pagar selatan negeri Zamrud Khatulistiwa yang memiliki segala pesona keindahan alam dan kebudayaannya, semoga tak pernah dilupakan asal mulanya.

Catatan Kaki: 

1 https://rotendaokab.go.id/profil-wilayah

2 https://rotendaokab.go.id/sejarah-rote.php

3 https://rotendaokab.go.id/budaya-masyarakat

4 https://rotendaokab.go.id/profil-daerah

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!