Pantai Nembrala: Sempadan Milik Bersama

Suara: Cahaya Dwi Dzullia

Pantai Nembrala terletak di Pulau Rote yang memiliki luas sekitar 1.214 kilometer persegi. Tepatnya di Desa Nembrala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan Australia. Pantai Nembrala merupakan Zonasi Kawasan Konservasi TNP Laut Sawu yang dikelola oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai UPT dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Perjalanan ke pantai ini dapat ditempuh sekitar 25 menit dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara El Tari di Kupang ke Bandara David Constantine Saudale di Pulau Rote.

Hanya ada dua penerbangan setiap harinya, yaitu pukul 06.30 dan 15.00 waktu setempat. Pilihan lainnya adalah menggunakan kapal feri cepat yang berangkat dari Pelabuhan Tenau di Kupang menuju Pelabuhan Ba’a di Kabupaten Rote Ndao, dengan waktu tempuh sekitar satu jam 40 menit sampai dua jam atau dengan menggunakan feri lambat yang berangkat dari Pelabuhan Bolok di Kupang, dengan lama perjalanan sekitar tiga sampai empat jam. Dilanjutkan dengan perjalanan darat selama kurang lebih satu jam 20 menit menuju Pantai Nembrala.

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Pesona Nembrala tidak hanya sebuah dongeng dari ujung selatan Indonesia. Nembrala mampu membuktikan pesonanya kepada Indonesia maupun mancanegara bahwa ia merupakan pantai dengan sejuta pesona. Nembrala menjadi pantai dengan ombak terbaik kedua di dunia sehingga peselancar dalam negeri maupun mancanegara menjadikan pantai ini sebagai destinasi berselancar yang setiap tahunnya menjadi tempat turnamen selancar dunia. Tidak hanya ombaknya saja yang memukau dari pantai ini, pasir pantai berwarna putih bersih dengan tiga gradasi warna membuat pengunjung semakin dimabuk oleh pesona Nembrala.

Selain dari aspek pariwisata, Nembrala merupakan pantai utama dalam penghasil rumput laut terbesar di Pulau Rote. Mata pencaharian warga sebagian besar merupakan petani rumput laut dan nelayan. Kapal-kapal kecil pencari ikan yang sedang bersandar dipinggir Pantai Nembrala menambah nilai eksotik dari pemandangan pantai ini. Rumput laut yang dihasilkan dari perairan Rote merupakan rumput laut dengan kualitas terbaik, terbukti rumput laut yang dihasilkan dari pantai-pantai Rote selalu bernilai jual mahal dibandingkan dengan rumput laut perairan lain di daerah Nusa Tenggara Timur.

Nembrala, pantai sejuta pesona. Panorama alam yang tak perlu diragukan, penopang ekonomi masyarakat yang kuat dan menjadi pintu selatan Indonesia. Keindahannya memang tak terbantahkan sehingga memancing para investor untuk membuat berbagai macam penginapan eksklusif dengan berfasilitas private beach. Sempadan Pantai Nembrala semakin habis karena tersekat oleh berbagai penginapan ekslusif tersebut, sehingga akses masuk bagi pengunjung umum bahkan warga setempat yang notabene pemilik asli pantai pun tidak diberikan akses yang leluasa untuk masuk ke daerah bibir pantai. saya cukup terkejut ketika menyambangi pantai ini, karena tidak ada penunjuk area masuk pantai. Tanpa sadar kami digiring halus memasuki hotel-hotel demi menikmati sempadan Pantai Nembrala. Saat itu beruntung kami berkunjung dengan beberapa petinggi  Pemerintahan Rote dan Kupang, sehingga dengan mudahnya kami diberikan akses masuk ke dalam hotel tanpa harus reservasi atau sebagaimana macamnya.

Namun, bayangkan jika yang ingin berkunjung adalah wisatawan yang memang murni hanya ingin datang menikmati pantainya saja, tanpa ada niatan menginap, wisatawan pasti akan tergiring secara tanpa sadar untuk masuk ke hotel dengan private beach tersebut. Tidak hanya satu dua hotel saja, namun sepanjang bibir pantai semua sudah disekat oleh pembatas-pembatas hotel. Lalu sempadan pantai ini sebenarnya milik siapa? Swasta? Masyarakat? Negara?

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Sempadan pantai adalah milik bersama. Batasan-batasan yang perlu dihormati bersama seperti yang dijelaskan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai yang antara lain menyebutkan tidak boleh ada bangunan di ruang sempadan pantai, yaitu minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Perpres tersebut dibuat untuk melaksanakan ketentuan Pasal 31 ayat ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014. Adanya peraturan ini bertujuan agar sempadan pantai dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan agar kelestarian pantai dapat terus terjaga.

Mengingat limbah yang dihasilkan oleh kawasan yang memakan sempadan pantai dapat menyebabkan rawannya pencemaran lingkungan. Terlebih lagi Pantai Nembrala merupakan salah satu kawan TNP Laut Sawu yang mempunyai banyak potensi dalam segala aspek yang patut dijaga. Mengutip dalam website Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, kawasan TNP Laut Sawu yang merupakan koridor migrasi mamalia laut sebanyak 31 spesies yang terdiri dari 18 spesies paus, 12 spesies lumba-lumba dan 1 spesies dugong, dengan didukung bentang laut dengan transisi kedalaman dari perairan dangkal ke perairan dalam hanya beberapa ratus meter saja dari pantai dan menjadi daerah budidaya rumput laut dengan kualitas terbaik di Pulau Rote sehingga Nembrala berbagai macam potensi dimiliki pantai ini baik dijadikan sarana pariwisata alam perairan, budidaya, pendidikan serta penelitian.

Nembrala adalah keberkahan yang dimiliki Indonesia, menetapkan hati untuk terus menjaga adalah kewajiban seluruh masyarakat, tak terkecuali pemerintah sebagai pemegang izin dari berdirinya sebuah bangunan. pemerintah perlu mengingat bahwa semua orang berhak menikmati dan menjaga keberkahan ini. semoga asas kerakyatan yang selalu digaungkan tidak seketika menjadi tuli karena dibisiki keuntungan kapitalis belaka.

Nembrala milik bersama.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!